Transformasi Geometri

Materi yang kembali ditambahkan pada matematika SMP setelah sebelumnya menghilang.

Menghafal Perkalian 1-10

Banyak siswa belum menguasai perkalian 1-10.

Bangun Ruang

Materi yang selalu ada sejak SD sampai dengan Perguruan Tinggi.

Bimbel Pak Mahadi

Ayo Gabung Bersama Bimbel Pak Mahadi.

Wednesday, June 10, 2026

Perkalian susun ke bawah

Perkalian Dua Digit × Satu Digit

Perkalian Dua Digit × Satu Digit

Skor 0
Benar 0
Soal 0
Gunakan papan angka 0–9 di layar. Cocok untuk HP/tablet.

Karya HTML

  1.  Perkalian 2 digit dikali 1 digit
  2. Perkalian 2 digit dikali 2 digit
  3. Perkalian 2 digit dikali 1 digit (dengan tombol dan skor)
  4. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  5. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  6. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  7. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  8. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  9. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  10. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  11. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  12. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  13. Perkalian 2 digit dikali dua digit
  14. Perkalian 2 digit dikali dua digit

 

Tuesday, May 19, 2026

Jawaban dr. Aisah Dahlan mengenai pola asuh, pembentukan karakter remaja, serta pelurusan konsep "orang tua sebagai sahabat":

 1. Menghadapi Sifat Anak yang Berubah-ubah

  • Pahami Faktor Usia dan Biologis: Sifat anak yang fluktuatif adalah hal normal. Hal ini dipengaruhi oleh tahapan umur, perbedaan otak laki-laki dan perempuan, watak dasar, serta bakat anak.
  • Pengaruh Hormon Remaja: Saat memasuki usia remaja, terjadi lonjakan hormon yang drastis (banjir hormon). Hormon testosteron pada anak laki-laki dan estrogen pada anak perempuan yang awalnya hanya keluar seukuran "satu cangkir" melonjak drastis menjadi "satu galon". Orang tua harus memahami perubahan fisik dan emosional ini.
2. Membangun Keberanian dan Kemandirian Remaja
  • Metode Keteladanan (Contoh Nyata): Cara terbaik mengajari kemandirian bukan dengan mendikte, melainkan lewat contoh harian di rumah. Misalnya, anak melihat orang tuanya merapikan tempat tidur sendiri atau langsung membawa piring kotor ke dapur setelah selesai makan.
  • Tidak Ada Kata Terlambat: Pembentukan memori dan karakter idealnya dimulai sejak balita dan SD lewat keteladanan orang tua. Namun, jika anak sudah terlanjur remaja, orang tua harus tetap memulainya sekarang karena memori manusia akan terus berjalan dan merekam perilaku orang tuanya hingga tua.
3. Pelurusan Konsep: Orang Tua Tetaplah Orang Tua, Bukan Sahabat
  • Sahabat adalah Peran Teman Sebaya: Dr. Aisah Dahlan kurang sependapat dengan istilah "orang tua harus menjadi sahabat anak". Konotasi sahabat atau teman sebaya sering kali membuat batasan komunikasi menjadi hilang, seperti anak berbicara dengan gaya bahasa gaul tanpa penyaring, atau memanggil orang tua tanpa sebutan hormat (misalnya memanggil hanya dengan kata "dia" atau langsung namanya).
  • Menjadi Orang Tua yang Lembut, Bukan Sahabat: Sesuai dengan Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 159, posisi yang tepat menurut syariat Islam adalah menjadi Ayah dan Ibu yang lembut.
  • Menjaga Rasa Hormat: Anak harus tetap paham batasan bahwa ibu adalah ibu dan ayah adalah ayah. Orang tua tetap mengedepankan komunikasi yang terbuka, lembut, dan suka bertanya/berdiskusi (meniru cara Nabi Ibrahim berdialog dengan Nabi Ismail), namun wibawa dan rasa hormat anak kepada orang tua tidak boleh turun.
4. Tips Meniru Kesalehan Nabi Ismail
  • Pelajari Kisah Secara Berulang: Untuk mendidik anak sesaleh Nabi Ismail, orang tua disarankan membaca, merenungkan, dan mengulang-ulang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
  • Berdoa Meminta Hikmah: Mintalah petunjuk dan hikmah secara langsung kepada Allah agar diberikan kemampuan dalam menerapkan pola asuh berbasis keteladanan nabi tersebut di dalam rumah tangga.

Bukan Dimata-matai! Begini Cara Cerdas Pantau Screen-Time Anak Menurut dr. Aisah Dahlan

 Menjadi orang tua di era digital memang punya tantangan luar biasa ya, Bun. Salah satu drama harian yang paling sering bikin pusing adalah urusan gadget dan screen-time anak.

Mulai dari anak balita yang langsung tantrum kalau HP-nya diambil, sampai anak remaja yang mendadak jadi super rahasia kalau sedang main gawai. Rasanya serba salah. Mau dilarang keras takut anak kuper, tapi kalau dibiarkan malah cemas anak kecanduan HP.
Nah, beberapa waktu lalu, dr. Aisah Dahlan membagikan tips parenting yang sangat mencerahkan tentang cara cerdas mengatur screen-time anak. Yuk, kita bedah bersama panduan praktisnya agar kita bisa memantau anak tanpa perlu terlihat seperti mata-mata!

Aturan Main Gadget: Sebelum vs. Sesudah Baligh
Langkah pertama yang harus kita pahami adalah mengenali usia anak kita. Menurut dr. Aisah Dahlan, perlakuan kita terhadap anak yang belum baligh dan sudah baligh harus dibedakan secara total.
1. Anak yang Belum Baligh: Masa Kuasa Penuh
  • Kendali 100% di Tangan Orang Tua: Di usia ini, Bunda dan Ayah masih punya kuasa penuh.
  • Bebas Mengatur Konten: Kita berhak menentukan aplikasi apa saja yang boleh dibuka.
  • Batasi Durasi: Buat jadwal tegas kapan anak boleh menyentuh layar gawai.
2. Anak yang Sudah Baligh (Remaja): Kurangi Sifat Kepo
  • Hargai Privasi Mereka: Anak remaja mulai butuh ruang pribadi.
  • Kurangi Kontrol Ketat: Terlalu mengecek HP anak secara diam-diam justru bisa merusak kepercayaan mereka kepada kita.
  • Fokus pada Pendekatan Emosional: Geser strategi dari "mengawasi" menjadi "menemani".

Rahasia Memantau Anak Tanpa Terlihat Memata-matai
Lalu, bagaimana caranya kita tahu apa yang mereka buka kalau tidak boleh memata-matai? Kuncinya ada pada kedekatan hubungan.
  • Jadilah Pendengar yang Aman: Buat suasana rumah nyaman agar anak tidak takut bercerita. Tujuannya adalah agar anak sendiri yang sukarela melapor tentang apa yang mereka tonton atau mainkan.
  • Masuk ke Dunia Anak: Cobalah untuk sedikit belajar tentang tren dunia mereka saat ini.
    • Anak Laki-laki senang game online (seperti Dota)? Cari tahu dasar permainannya agar bisa jadi bahan obrolan seru saat makan bersama.
    • Anak Perempuan suka musik K-Pop (seperti BTS)? Cari tahu siapa idola mereka. Ketika kita mengerti dunia mereka, anak akan dengan senang hati membuka diri tanpa merasa diinterogasi.

Solusi Hadapi Anak yang Tantrum Minta Gadget
Bagaimana dengan si kecil yang tidak mau makan atau terus menangis menjerit sebelum diberi HP? Ini adalah tantangan berat di usia dini.
Memahami Kerja Otak Anak
Anak-anak yang sudah dikenalkan gadget terlalu dini (misalnya di bawah usia 2 tahun) memiliki neuron cermin di otaknya yang merekam kuat bahwa gadget adalah kebutuhan utama. Itulah mengapa mereka langsung diam saat diberi HP, karena otak mereka menganggap "kebutuhannya" sudah terpenuhi.
Langkah Mengatasinya:
  • Sediakan Alternatif Non-Gadget: Jangan biarkan rumah sepi dari aktivitas fisik. Tarik perhatian mereka keluar dari layar kaca.
  • Perbanyak Fasilitas Mainan Fisik: Bunda bisa menyediakan permainan tradisional atau olahraga kecil di dalam rumah seperti:
    • Congklak atau karambol di ruang tengah.
    • Papan catur untuk melatih fokus.
    • Ring basket mini atau gawang bola kecil di ruang tamu untuk menyalurkan energi mereka.
  • Konsisten dan Pantang Menyerah: Mengalihkan perhatian anak yang sudah terbiasa dengan gadget memang butuh waktu. Kuncinya adalah tidak patah arang dan terus kreatif mencoba hal-hal baru.

Kesimpulan: Orang Tua Harus Selalu Kreatif
Mendidik anak di era digital memang menuntut kita untuk selangkah lebih kreatif daripada generasi sebelumnya. Mengatur screen-time bukan tentang memutus akses teknologi sepenuhnya, melainkan tentang membangun kedekatan dan memberikan alternatif aktivitas yang tidak kalah seru di dunia nyata. Jangan menyerah ya, Ayah dan Bunda! Setiap usaha kecil kita hari ini adalah investasi besar untuk masa depan mereka.

Yuk, Saling Berbagi Cerita!
Bagaimana dengan kondisi di rumah Bunda saat ini? Apa saja tantangan terbesar Bunda dalam membatasi screen-time si kecil? Atau punya ide mainan fisik seru lainnya yang berhasil mengalihkan anak dari HP?

Mengenang 4 Maret 1924: Detik-Detik Runtuhnya Turki Utsmani dan Cahaya Islam yang Menolak Padam

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya ketika sebuah peradaban besar yang telah bertahan selama ratusan tahun mendadak runtuh dalam semalam? Bagi umat Muslim di seluruh dunia, momen itu terjadi puluhan tahun yang lalu, meninggalkan luka sejarah yang mendalam sekaligus sebuah pelajaran berharga tentang perjuangan.

Dalam sebuah khotbah Jumat yang sarat akan emosi dan refleksi sejarah, Ustaz Abdul Somad (UAS) membawa ingatan kita kembali ke tanggal 4 Maret 1924. Hari itu dicatat sebagai hari pertama di mana Kesultanan Turki Utsmani—benteng pertahanan sekaligus payung pelindung umat Islam terakhir di dunia—resmi kehilangan pemimpinnya.
Mari kita bedah kisah kelam, hubungan emosionalnya dengan Indonesia, hingga secercah harapan yang lahir dari sebuah madrasah kecil di Turki.

Hari Ketika Umat Kehilangan Induknya

Sehari sebelum tanggal bersejarah itu, tepatnya pada 3 Maret 1924, gerakan sekularisasi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk berhasil melucuti seluruh kekuasaan Khilafah Islamiah dari Sultan Turki terakhir. Tepat pada tanggal 4 Maret, umat Islam di seluruh dunia terbangun dalam kondisi yang digambarkan oleh UAS seperti "anak ayam kehilangan induk atau anak yatim yang kehilangan sosok ayah." Tidak ada lagi tempat mengadu yang berwibawa di tingkat internasional.
Setelah kekuasaan Islam runtuh, gelombang "Barat-isasi" (westernisasi) terjadi secara agresif dan ekstrem di Turki:
  • Hagia Sophia Menjadi Museum: Masjid agung ikonik di Istanbul, yang dulu dibebaskan dengan tetesan darah, diubah paksa menjadi museum [1].
  • Larangan Bahasa Arab & Azan: Segala hal berbau Arab dilarang, termasuk penggunaan bahasa Arab dalam ibadah dan azan.
  • Penghapusan Identitas Muslim: Tempat-tempat zikir (tarekat) dihancurkan, penggunaan jilbab dilarang, dan masyarakat digiring untuk berkiblat pada gaya hidup Eropa, termasuk legalisasi perjudian dan prostitusi.
UAS mengingatkan, “Jangan pernah bangga hanya dengan masjid yang besar dan megah. Kurang megah apalagi Masjid Hagia Sophia di Turki atau Masjid Kordova di Spanyol? Tapi sejarah mencatat, manakala umatnya lalai, masjid-masjid itu bisa berubah fungsi dalam sekejap.”

Ikatan Batin Turki Utsmani dan Nusantara

Bagi kita yang berada di Asia Tenggara, Turki mungkin terasa sangat jauh. Namun, UAS meluruskan kekeliruan ini dengan membuka catatan sejarah Nusantara. Hubungan batin antara Kesultanan Turki Utsmani dan Indonesia ternyata terjalin sangat erat:
  1. Prasasti Keraton Yogyakarta: Sultan Hamengkubuwono memiliki prasasti sejarah yang membuktikan bahwa Turki Utsmani pernah menitipkan legitimasi kekuasaan Islam di tanah Jawa.
  2. Misi Dakwah Wali Songo: Meski Kesultanan Turki menganut Mazhab Hanafi, sang Sultan saat itu sangat memahami kondisi Nusantara. Demi keutuhan dakwah, mereka justru mengirimkan ulama-ulama hebat bermazhab Syafi'i—yang kita kenal sebagai Wali Songo—untuk menuntun nenek moyang kita memeluk Islam.
Kejatuhan Turki pada tahun 1924, secara tidak langsung, juga merupakan pukulan telak dan awal dari keruntuhan kekuatan politik umat Islam di Nusantara kala itu.

Madrasah Imam wa Khatib: Cahaya Senyap di Tengah Kegelapan

Apakah malam yang kelam di Turki tidak akan pernah berakhir? Di tengah kepungan hukum sekuler, ada satu celah kecil yang luput atau sengaja disisakan oleh rezim Ataturk: Madrasah Imam wa Khatib (sekolah khusus untuk mencetak imam dan khatib).
Di dalam ruang kelas yang sunyi, guru-guru agama dengan keikhlasan yang luar biasa tetap mengajarkan "Bismillahirrahmanirrahim, Alif Lam Mim..." kepada anak-anak kecil. Mereka tidak membalas penindasan penguasa dengan cara radikal seperti bom atau bakar-bakaran. Mereka memilih jalan kelembutan dan konsistensi pendidikan.
UAS menegaskan bahwa janji Allah itu nyata. Siapa pun yang mencintai Allah, Allah akan merawat cahayanya. Dari madrasah kecil yang sempat diremehkan dunia itulah, hampir seabad kemudian lahir seorang pemimpin besar, singa podium dunia yang berani berdiri membela hak-hak anak Palestina: Recep Tayyip Erdogan.

Warning untuk Hari Ini: Bahaya Penyakit Wahan

Di akhir khotbahnya, UAS memberikan peringatan keras bagi umat Muslim zaman sekarang. Saat ini, jumlah umat Islam sangat banyak laksana raksasa, namun sering kali seperti makanan yang diperebutkan di atas meja makan karena kehilangan wibawa. Mengapa? Karena umat sedang terjangkit penyakit Wahan.
Ketika para sahabat bertanya, "Apa itu Wahan, ya Rasulullah?" Nabi menjawab:
  • Hubbuddunya: Terlalu cinta kepada dunia.
  • Karahiyatul Maut: Takut mati.
Penyakit inilah yang membuat iman dan akidah mudah dibeli dengan materi, seperti fenomena politik "Serangan Fajar" demi uang yang tidak seberapa. Akibat terlalu cinta dunia, umat kehilangan taringnya untuk mempertahankan kehormatan agama.

Kesimpulan: Politik Boleh Kalah, Pendidikan Jangan Pernah Mati

Pesan terbesar dari runtuhnya Turki Utsmani adalah: kita boleh kalah dalam hal ekonomi ataupun politik, tetapi jangan pernah biarkan pendidikan Islam di dalam rumah dan keluarga kita mati.
Apa yang terjadi di Turki, Cordoba, dan belahan dunia lain bisa saja terjadi di sekitar kita jika kita abai mewariskan nilai-nilai Islam kepada anak cucu kita. Mari jaga generasi muda kita, penuhi hati mereka dengan Al-Qur'an, agar cahaya Islam di bumi Nusantara ini tetap menyala hingga akhir zaman.

Mengurai Kusutnya Hati: Rahasia Sukses dan Plong Jalani Hidup ala UAS

Pernahkah Anda merasa sangat disakiti oleh orang lain, dikhianati teman dekat, atau bahkan dipersulit saat ingin melakukan kebaikan? Di momen-momen seperti itu, rasanya dada sesak dan dunia terasa tidak adil.

Dalam sebuah ceramah santai tapi mendalam di Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Pekanbaru, Ustaz Abdul Somad (UAS) membagikan sebuah resep hidup yang sangat berharga: "Sucikan Hati". Lewat gaya khasnya yang jenaka, penuh pantun, dan blak-blakan, UAS mengupas tuntas mengapa kita harus berhenti menyimpan dendam dan bagaimana Allah membalas kebaikan dengan cara yang sama sekali tidak terduga (unpredictable).
Yuk, kita bedah poin-poin penting dari ceramah UAS yang bisa langsung kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari!

1. Filosofi Pohon Gaharu: Semakin Disakiti, Semakin Harum

UAS mengibaratkan orang yang berhati bersih seperti pohon gaharu atau cendana. Pohon gaharu unik; ia justru mengeluarkan aroma wangi yang semerbak saat batangnya dipotong atau dibakar.
Begitu juga dengan manusia. Ketika kita disakiti atau dijatuhkan, di situlah momen kita untuk "wangi". Mengapa Allah membiarkan kita patah hati terhadap dunia, bahkan lewat orang-orang terdekat? Jawabannya satu: supaya kita tidak berharap pada manusia.
  • Jangan bergantung pada teman, karena teman bisa berubah menjadi lawan.
  • Jangan bersandar pada pohon, karena pohon bisa tumbang.
  • Jangan bersandar pada harta, karena harta bisa binasa.
  • Jangan bersandar pada kekuasaan, karena ada KPK yang bisa datang kapan saja.
“Bergantunglah hanya kepada Allah,” pesan UAS.

2. Bahaya Medis Menyimpan Dendam (Ibarat Memori HP Penuh)

Ada analogi menarik yang dibagikan UAS. Beliau bercerita bahwa handphone-nya sempat eror dan tidak bisa mengirim pesan WhatsApp karena memorinya penuh hingga 4 GB oleh foto-foto dari keluarga.
Manusia juga sama. Kalau kita terus-menerus menyimpan memori buruk, dendam, dan sakit hati di kepala, sistem tubuh kita akan error. Secara medis, gumpalan emosi negatif ini bisa memicu berbagai penyakit fisik, mulai dari jantung koroner, diabetes, asam lambung, asam urat, hingga kelakar UAS—asam podeh dan asam baung!

3. Meluruskan Salah Paham Soal Halal Bihalal dan Bid’ah

Karena acara ini diadakan dalam rangka Halal Bihalal, UAS menyentil fenomena kaum "tekstualis" yang hobi membid'ahkan segala hal yang tidak tertulis di dalam Al-Qur'an dan Hadis.
Secara bahasa, istilah Halal Bihalal memang murni buatan Indonesia (bahasa Arab yang diindonesiakan) dan tidak akan ditemukan di Timur Tengah. Namun, esensinya sangat mulia. Kata halal berasal dari kata Wahlul (melepaskan ikatan). Jadi, inti dari Halal Bihalal ada tiga:
  1. Mengurai yang kusut (menyelesaikan salah paham).
  2. Mencairkan yang beku (memperbaiki suasana kaku).
  3. Menyambung yang retak (silaturahmi).
Menurut Imam Syafi'i, perbuatan yang tidak ada di zaman Nabi tetapi bernilai baik dan tidak menentang syariat disebut Bid'atuh Huda (Bid'ah Hasanah). Jadi, tidak perlu kaku beragama sampai menganggap semua tradisi baik sebagai tiket ke neraka.

4. True Story: Balasan Instan dari Allah Tanpa Kotori Tangan

UAS membuktikan khasiat "pasrah pada Allah" lewat tiga kisah nyata dari pengalaman pribadinya sendiri:
  • Kisah Pejabat yang Sombong: UAS pernah diabaikan (tidak disalami) oleh seorang pejabat di sebuah acara. Di hari lain, pengawal pejabat tersebut mengusir UAS saat sedang makan di warung ikan bakar. Apa yang terjadi kemudian? Pejabat tersebut akhirnya tertangkap korupsi Rp42 Miliar. Saat UAS diundang ceramah di Lapas Sialang Bungku, pejabat yang dulunya petentang-petenteng itu duduk tertunduk di lantai mendengarkan khotbah UAS.
  • Kisah Ditipu Yayasan YouTube: Akun YouTube lama UAS yang memiliki 2 juta subscribers menghasilkan Rp2,5 Miliar dari iklan. Namun, pihak yayasan yang mengelolanya hanya memberikan UAS 5% tanpa musyawarah. Kecewa karena sifatnya yang "tidak enakan", UAS memilih ikhlas dan merelakan akun tersebut. Allah langsung ganti! UAS membuat akun baru yang kini tembus jutaan subscribers dan menghasilkan puluhan juta per bulan—yang mana 100% uangnya diwakafkan untuk pesantren anak yatim.
  • Kisah Ditolak Kampus UIR: Saat baru pulang dari Timur Tengah, UAS sempat diremehkan dan ditolak mengajar di Universitas Islam Riau (UIR). Bertahun-tahun kemudian, jajaran Rektorat UIR justru datang sendiri ke rumah UAS untuk memohon agar beliau sudi menjadi dosen pascasarjana.

5. Hati yang Bersih Lahirkan Integritas Kerja

Di akhir sesi, UAS mengingatkan para pelayan publik tentang beratnya tanggung jawab di akhirat. Pegawai daerah yang korupsi harus meminta maaf kepada jutaan warga kota di akhirat. Namun, bagi pegawai instansi vertikal (pusat), tanggung jawab moralnya adalah kepada 285 juta rakyat Indonesia!
Jika ada sistem yang salah di kantor, UAS melarang untuk langsung resign jika posisi kita justru akan digantikan oleh orang yang lebih buruk. Strateginya: amankan nafkah keluarga dengan hanya mengambil hak gaji yang benar-benar halal, dan salurkan dana syubhat/lebih untuk fasilitas umum seperti pembangunan WC atau Posyandu.

6. Tanya Jawab Kilat: Soal Zakat Sawit dan Bank Konvensional

Di penghujung acara, UAS menjawab keraguan jemaah lewat dua poin hukum yang krusial:
  • Zakat Perkebunan Sawit: Walaupun sawit tidak bisa dikunyah langsung seperti kurma, sawit tetap wajib zakat. Mayoritas lembaga seperti Baznas menetapkan tarif 2,5% (mengikuti zakat harta) atau 5% (mengikuti zakat pertanian karena ada biaya pupuk dan operasional). Hebatnya, menurut fatwa modern (seperti Syekh Yusuf Al-Qardawi), zakat sawit boleh dipotong langsung setiap kali panen tanpa perlu menunggu tabungan mengendap setahun (haul).
  • Bekerja dan Meminjam di Bank Konvensional: Berdasarkan hadis, seluruh lingkaran yang mencatat, menyaksikan, dan menyepakati transaksi riba ikut terkena dosa. Solusinya, bagi yang bekerja di bank konvensional, UAS menyarankan untuk segera berhijrah ke divisi/bank syariah yang kini pertumbuhannya semakin baik di Indonesia. Sedangkan bagi nasabah, prinsipnya adalah berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari jerat utang riba, bukan malah sibuk mencari dalil atau ustaz yang bisa menghalalkannya.

Kesimpulan: Open House Sekaligus Open Heart

Momen syukuran dan lebaran jangan hanya dijadikan ajang untuk membuka pintu rumah (open house), tetapi yang paling penting adalah membuka pintu hati (open heart). Bersihkan hati dari dendam, maafkan orang yang menyepelekan kita, dan biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib untuk mengangkat derajat kita.

Bagaimana dengan Anda? Apakah masih ada "file dendam" yang menumpuk di memori hati Anda hari ini? Yuk, mulai kita hapus pelan-pelan agar hidup terasa lebih plong dan sehat!
Jangan lupa untuk share artikel ini ke keluarga atau teman kantor Anda yang butuh asupan ketenangan hati hari ini, ya!

Thursday, May 14, 2026

Tes

import random def main(): pilihan_game = ["batu", "gunting", "kertas"] print("=== PERMAINAN BATU, GUNTING, KERTAS ===") user = input("Masukkan pilihan Anda (batu/gunting/kertas): ").lower() if user not in pilihan_game: print("Pilihan tidak valid! Silakan pilih batu, gunting, atau kertas.") return komputer = random.choice(pilihan_game) print(f"Komputer memilih: {komputer}") if user == komputer: print("Hasil: Seri!") elif (user == "batu" and komputer == "gunting") or \ (user == "gunting" and komputer == "kertas") or \ (user == "kertas" and komputer == "batu"): print("Hasil: Anda Menang!") else: print("Hasil: Anda Kalah!") if __name__ == "__main__": main()

Link yang kita buat

Teorema phytagoras  Game tembak Catur catur bot Aritmatika sosial Aritmatika sosial ada nilai